Penyandang Disabilitas Kota Malang Dapat Pelatihan Batik Ciprat dan Bertani Hidroponik

Peresmian workshop dan galeri karya inklusi di GOR Ragil Regency A4, Kedungkandang Kota Malang.

Foto: yna/kliktimes.com
Peresmian workshop dan galeri karya inklusi di GOR Ragil Regency A4, Kedungkandang Kota Malang. Foto: yna/kliktimes.com

KLIKTIMES.COM-MALANG- Sulitnya penyandang disabilitas mendapat pekerjaan yang layak di tengah masyarakat, menjadi alasan kuat lingkar sosial Indonesia atau linksos menggelar workshop pelatihan kerja. Pesertanya para penyandang disabilitas yang ada di Kota Malang, Sabtu (05/03/22).

BACA JUGA:

Linksos dalam kegiatan ini menggandeng lintas sektor yakni dari Madani Faram serta Sedekah Masyarakat Indonesia (SMI) serta didukung oleh BPJS Ketenagakerjaaan, memberi pelatihan membuat batik ciprat dan bertani dengan cara hidroponik.

Ketua Pembina Linksos Malang Raya, Kertaning Tyas mengatakan jika workshop ini bertujuan untuk memfasilitasi teman-teman disabilitas, utamanya usia remaja hingga usia produktif agar memiliki ketrampilan hingga nantinya bisa mendapat pekerjaan ataupun bisa membuka lapangan kerja sendiri.

Adanya kegiatan ini untuk menjawab kebutuhan sulitnya lapangan kerja bagi teman teman disabilitas, memang ada sekarang ini sudah mulai membuka perusahaan membuka lowongan kerja namun belum mengakomodir semua masyarakat disabilitas karena jumlahnya cukup banyak. Dan hari ini selain ada kegiatan membatik, batik ciprat ada juga kegiatan pelatihan hidroponik,ungkap Kertaning Tyas.

Pelatihan membatik dan juga hidroponik ini diikuti kurang lebih 15 orang penyandang disabilitas, hal itu dilakukan agar proses pelatihan bisa terserap dengan baik, sekaligus juga agar penyandang disabilitas bisa fokus mengikuti pelatihan.

Pelatihan menanam secara hidroponik sendiri difasilitasi oleh Madani Farm, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang hidroponik, sementara pelatihan batik ciprat difasilitasi oleh Sedekah Masyarakat Indonesia (SMI).

Masih menurut Kertaning Tyas, tujuan menggandeng lintas sektor untuk memberikan pelatihan bagi penyandang disabilitas, bertujuan agar bisa berkelanjutan dalam memberikan pelatihan, tidak hanya sekedar produksi namun juga bisa membantu memasarkan produksi hasil karya para penyandang disabilitas.

Mengapa kami mengajak lintas sektor? Agar bisa berkelanjutan, karena fenomena pelatihan-pelatihan selama ini baik dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta itu biasanya setelah pelatihan selesai mereka bingung mau apa, nah kami ini mendorong teman-teman untuk berkelanjutan bukan hanya hari ini, tapi setidaknya setelah produksi ada pemasaran. Mereka juga akan membantu memasarkan dan sebagainya bila perlu juga permodalan,tambah Kertaning Tyas.

Sementara itu, Ketua workshop dan galeri inklusi, Ahmad SanaI mengatakan sangat senang dengan adanya pelatihan berkelanjutan seperti ini, karena selama ini banyak karya atau kreatifitas penyandang disabilitas kurang dalam penjualannya. Dengan adanya kegiatan ini, ia berharap bisa lebih menggelorakan kreatifitas teman-teman disabilitas agar lebih semangat.

Melihat kreativitasnya teman-teman, hasil karyanya teman-teman banyak, tapi penjualannya kan kurang, jadi kita punya inisiatif membuat galeri, bazar dan workshop juga dan dari situ dari tiga gerakan situ insya Allah mudah-mudahan bisa menggerakkan kreatifitas teman-teman, bisa menggerakkan penjualannya teman-teman. Mungkin yang kurang semangat bisa bangkit lagi semangatnya seperti itu mungkin langkah-langkah selanjutnya kita dengan pak Ken dan nantinya juga mengajak teman-teman yang lain atau donatur yang lain, mungkin juga ada dermawan yang mau mendampingi kita,kata Ahmad Sanai.

Dan bertepatan dengan pelatihan itu, dihari yang sama juga dilakukan peresmian workshop galeri karya inklusi yang berlokasi di perum GOR Ragil Regency A4, galeri ini difasilitasi oleh BPJS Ketenagakerjaan yang berfungsi sebagai tempat pelatihan bagi setiap penyandang disabilitas yang ada di Malang Raya.(yna)