Ketika Dua Pak Tua Apresiasi Artefak Tua di Situs Srigading Kabupaten Malang

Proses pengangkatan artefak tua di situs Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.

Foto: M. Dwi Cahyono/kliktimes.com
Proses pengangkatan artefak tua di situs Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Foto: M. Dwi Cahyono/kliktimes.com

Oleh : M. Dwi Cahyono*

A. Apresiasi Pak Tua Terhadap Artefak Tua

Entah apa yang berkecamuk di benaknya kala dua lelaki tua warga Desa Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang itu menatap sebuah di antara tiga wadah perunggu. Pada senja hari Sabtu, 5 Maret 2022 di situs Srigading barusan di angkat di suatu pojok dasar perigi (sumuran) candi bata di Masa Kerajaan Mataram era Pu Sindok (Sri Isana, paro pertama abad X Masesehi). Jika merujuk pada teks Prasati Gulung- gulung (929 Masehi), candi Hindu Siwa yang berporos Semeru - Arjuna ini bisa jadi adalah Prasadha Kabhaktyan ri Himad, untuk memuja Bhatthara yang bersemayam di "Gunung Suci" Wangkedi. Yang setiap tahun -- tepatnya ketika matahari berada pada Equinox -- dipuja secara bersamaan di (1) Prasadha Kabyaktyan Himad dan (2) Sang Hyang Kahyangan di Pangawan, dengan pengorbanan (sacrafice) kambing. Tentulah, ketiga artefak yang berbahan perunggu itu jauh lebih sepuh (tua) dari usia keduanya, padamana artefak perunggu yang telah rapuh itu kini lebih dari satu milenium usianya.

[caption id="attachment_16073" align="alignnone" width="621"]situs srigading Dua pak tua menyaksikan proses pengangkatan artefak tua di situs Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.
Foto: M. Dwi Cahyono/kliktimes.com[/caption]

BACA JUGA:

Kedua lelaki tua itu bertahan tinggal pada situs reruntuhan candi yang tengah diekskavasi (kali ini memasuki ekskavasi tahap III), meski meski hari telah memasuki waktu senja. Para pengunjung, yang hingga sebelum Ashar berdatangan dari berbagai tempat di Malang Raya dan bahkan Pasuruan. Satu per satu tinggalkan situs di tengah kebun tebu ini. Pemberitaan yang viral mengenai ekskavasi di situs Sri Ganding dan di Gemekan (Mojokerto) -- yang sama-sama perlihatkan indikasi era kerajaan Mataram berpusat (berkadatwan) di Jawa Timur, mampu mengundang perhatian publik untuk menyaksikan proses ekskavasinya, tak terkecuali dua Pak Tua itu.

Kendati para pemirsa lainnya sudah pergi tinggalkan area ekskavasi, namun kedua lelaki tua itu tetap bersabar menunggu hingga ketiga temuan langka. Yakni yang berupa (a) periuk perunggu tanpa tutup, dan (b) dua buah wadah perunggu bercerat (lengkap dengan tutupnya) dikeluarkan seluruhnya dari dalam perigi candi. Ketiga temuan itu menyusul setelah di hari-hari sebelumnya ditemukan Lingga (sebagai pasangan Yoni), Lingga Pathok, arca Siwa Nandiswara dan Mahakala, arca Maharsi Agastya, arca kepala Hamsa (angsa) dari terakota, ambang pintu (doorpel) tubuh dan relung-relung candinya. Lebih istimewa lagi, pada ekskavasi tahap III hari ke-2 yang lalu berhasil diketemukan cupu emas dan berisi lempengan-lempengan tipis emas (swarnapatra) beserta gurisan inskripsi pendek (sort inscription) yang juga dari dalam sumuran candi.

[caption id="attachment_16075" align="alignnone" width="693"]situs srigading Artefak tua di situs Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.
Foto: M. Dwi Cahyono/kliktimes.com[/caption]

B. Temuan-Temuan Arkeologis Situs Srigading

Sebenarnya, masih terdapat sebuah temuan lain, bisa jadi merupakan "peripih" batu, yang Insya Allah baru besok ditangani. Temuan ini adalah realitas tinggalan akeologis yang unik. Di mana selain peripih, pada dasar sumuran candi disertakan pula perangkat "pendaman" yang berupa tiga buah wadah perunggu tersebut. Ekskavasi reruntuhan candi, yang pada sumurannya masih dijumpai peripih -- terlebih disertai perangkat pendaman lain, tentu suatu momentum temuan arkeologi yang menggembirakan, yang pada beberapa dasawarsa tera- khir penemuan yang demikian tak didapati.

Sebenarnya, di reruntuhan Candi Pendem yang dieksvasi di tahun lalu juga diperoleh sumuran candi. Namun sayang sekali artefak yang berada di dalamnya telah kedahuluan dijarah oleh "maling". Adapun di situs Srigading, kondisinya lebih menguntungkan, artefak di dalam sumurannya belum sampai terjarah, Lebih "istimewa lagi", reruntuhan Candi Srigading merepresentasikan era awal kerajaan Mataram yang pada masa itu berkadatwan di Jawa Timur, tepatnya menurut keterangan dari prasasti Turyyan (929 Masehi, kini in situ pada Punden Tanggung di Kecamatan Turen, Malang) berada Tamwlang, yang boleh jadi bertempat di wilayah Malang : terdapat toponimi "Tembalangan" di lembah utara Sub- DAS Hulu Brantas di Kota Malang, yang konon juga disertai dengan adanya tinggalan artefaktual masa Hindu-Buddha.

[caption id="attachment_16076" align="alignnone" width="865"]situs srigading Artefak tua diduga berasal paroh perdana abad X Masehi. Jelak historis tokoh peletak dasar kemonarkhian di sakarida (timur) Dwipa Jawa, yaitu Pu Sindok Sri Isana,
Foto: M. Dwi Cahyono/kliktimes.com[/caption]

C. Urgensi Situs Candi Hindu-Saiwa Srigading

Apa isi di dalam tiga wadah perunggu yang diketemukan itu? Pada malam ini barulah dengan sangat seksama ditangani oleh anggota tim BPCB Trowulan di tempat inapnya. Maka, bersabarlah, tunggu beritanya ya, he he he ......

Yang terang, bersyukurlah Kabupaten Malang, yang kini kian kaya serta diragamkan khasanah budaya masa lampaunya oleh tinggalan candi, arca, maupun artefak penyertanya asal paroh perdana abad X Masehi. Jejak historis tokoh peletak dasar kemonarkhian di sakarida (timur) Dwipa Jawa, yaitu Pu Sindok Sri Isana, dengan ini terbukti nyata "mawujud" di Bhumi Arema. Malang Raya memang "Kawasan Bersejarah".

Oleh karena itu, tinggalan purbakala di situs Srigading jangan berhenti hanya diekskavasi, namun wajib pula untuk direstorasi (dipugar) dan dimanfaatkan untuk beragam keperluan yang bermakna. Bersama dengan situs Candi Pendem dan Candi-Patirthan Songgoriti, situs Ngawonggo, mauoun Candi Srigading adalah "jejak- jejak tertinggal" dari era Wawa-Sindok Nuwun.

Srigading, 5 Maret 2022

Jatya CITRALEKHA

*Redaktur ahli kliktimes.com, arkeolog pada Universitas Negeri Malang