Esai Sastra & Budaya

Kisah Relief Cerita “Arjunawiwaha” di Dinding Goa Patapan Selamangleng Tulungagung

kisah

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Satu di antara dua goa pertapaan Selamangleng Tulungagung, tepatnya goa yang sebelah utara, lengkap dengan pahatan berupa relief cerita. Hal ini beda dengan goa sebelah selatan yang sedikit lebih tinggi posisinya. Dinding batuan breksi vulkanik pada ruang dalam goa hadir polos, tak berelief. Tayangan video bagian 2 seri “Jelajah Goa Patapan Selamangleng” ini berfokus pada tujuh panil relief cerita, yang terdiri atas : (a) dua panil di dinding ruang goa sisi utara, (3) tiga panil di dinding sisi timur, dan (3) dua panil di dinding sisi selatan.

SIMAK VIDEONYA:

Relief cerita apa yang terpahat? Misal kita belum mengetahui relief apa yang terpahatkan, pertama perlu kita cari dan temukan “kunci cerita (key scene)”- nya. Pada relief Goa Selamangleng berupa seorang pertapa dan dua wanita penggodanya. Pahatan yang demikian terdapat dalam beberapa relief candi. Seperti pada kaki Candi Surowono, teras III Candi Jago, Batur Candi Kedaton, dsb. Dalam bentuk arca terdapat di Punden Berundak Indrakila dan areal Persawahan di Desa Pejeng (dekat Pura Kebo Edan) Gianyar – Bali. Relief dan arca itu teridentifikasi menggambarkan Arjuna bertapa. Tengah dapat godaan oleh Widyadari Suprabha dan Tilotama — ada sebutan lain di Bali terhadapnya, yaitu “Arjunamatapa”. Suatu kunci adegan pada kisah pada susastra lama, yaitu kakawin Arjunawiwaha, yang tersurat oleh rakawi Pu Kanwa pada era pemerintahan raja Airlangga (1019-1049 Masehi).

Tujuh Panil di Goa Selamangleng

Berdasarkan key scene ini, maka relief terpahatkan di dinding Goa Patapan Selamangleng sebelah utara adalah relief Arjunawiwaha, sebanyak tujuh panil. Tidak keseluruhan kisahnya tereliefkan, karena yang terpahatkan pada goa I (utara) hanya separoh awal. Menilik arah gerak dari para tokoh lakon yang tergambarkan. Arah pembacaan dari rangkaian panil relief ini adalah “pradhaksina”, yaitu searah dengan jarum jam — bila berlawanan dengan arah jarum jam adalah “prasawya”. Memulainya dari panil I pada dinding sisi utara ujung barat, yang menggambarkan Dewa Indra (beserta dengan dua orang inang- nya). Ciri kedewataan-Nya terlihat pada singgasananya yang berupa padmasana dan lingkaran di sekitar kepala (sirascakra). Indra adalah “raja” sekalian Dewa, sehingga karajaan Dewata, namanya “Kaindran”, yang berada di puncak Gunung Meru (sebutan kuno “Himalaya”). Indra memerintahkan 7 Widyadari — tergambar hanya 3 Bidadari beserta seorang rokhaniawan sepuh — untuk turun ke Madyapada (Dunia) guna “menggoda” Arjuna yang tengah bertapa di suatu goa pada lereng atas Gunung Indrakila.

Menarik untuk kita cermati, gambaran latar di belakang para Bidadari adalah berupa bangunan berdinding papan menyerupai lumbung padi. Selain itu, pada sisi atas ada pahatan berupa lubang di tengah dengan keliling lubang-lubang lain yang lebih kecil. Boleh jadi, konon penggunaannya untuk menancapkan lampu penerang di malam hari. Sisa jelaga di langit-langit goa menunjukkan bahwa dulu kala penggunaan ruang goa untuk bertapa hingga di malam hari. Serupa itu didapati di Goa Selamangleng Kediri, yang juga terdapat adanya ceruk- ceruk untuk menempatkan lampu penerang di malam hari.

Kisah di Panil II menggambarkan ketiga Bidadari turun dari Kahyangan (Kaindran, sebagai dunia atas) ke Bhumi (Madyapada = dunia tengah). Dua bidadari telah menapakkan kakinya ke tanah. Sedangkan seorang yang lainnya tengah turun dengan mengendari semacam mega. Gambaran proses turun itu berkesan oleh adanya garis-garis miring sejajar. Ini memberi kesan “cumlorot miring tumurun”. Yang menarik untuk kita cermati, dekat garis- garis miring sejajar itu terdapat gambaran kecil berupa tangan kanan menabuh bende (wadita berpencu). Mahkluk yang menabuhnya memiliki ujung tubuh yang menyerupai ekor naga. Bunyi bende itu menjadi “tengara kedatangan” para makhluk kahyangan ke dunia. Sebagai gambar latar, terdapat perbukitan serta tanaman hutan, yang di selanya muncul dua ekor rusa.

Kisah Tiga Bidadari Goda Arjuna

Kisah pada relief cerita Arjunawiwaha di kaki candi Surowono dan teras II Candi Jago, setelah tiba di dunia para bidadari itu bergegas mandi keramas. Ada pula yang berak, dan kemudian berias mempercantik diri sebagai persiapan untuk bisa menggoda tapa Arjuna. Pada dinding Goa Selamangleng Tulungagung gambaran ini tidak terpahatkan dan langsung disusul panil III pada dinding goa sisi timur. Menggambarkan Arjuna yang teguh dalam tapanya meski menghadapi “godaan” nafsu dari Widyadari Suprabha serta Tilotama. Dengan polah tingkah sensualnya. Gambaran sensualitasnya antara lain mereka tampakkan dengan membuka paha dan mengarahkan selangkangnya ke kaki bersila dari Arjuna.

Bukan hanya itu, tangannya merengkuh leher Arjuna sambil menempelkan payudaranya ke bahu Arjuna. Terkesan makin sensual, karena bidadari Tilotama tersebut hadir telanjang bulat dengan menggerai rambut panjangnya. Bidadari Suprabha yang berada di sisi kanan Arjuna terlihat menggandengkan tangannya ke tangan Arjuna. Dan menarik pundak kiri Arjuna supaya menyentuh payudaranya. Bidadari yang ketiga tergambarkan berdiri di samping kiri depan ruang goa, menunggu giliran menggoda Arjuna.

Harta, Tahta, Wanita dan Pertapa Tua Nyaris Telanjang

Perilaku bidadari itu sungguh merupakan gelitik nafsu yang luar biasa. Khususnya bagi “sang don juan (lelaki penyuka wanita)” Arjuna. Ya …., memang tak mudah bagi lelaki dapat menjaga nafsu dirinya dalam menghadapi godaan wanita. Terlebih bila wanita penggodanya adalah bidadari, yakni makhluk perempuan yang terbilang cantik. Wanita adalah satu di antara tiga media uji. Satu di antara tiga godaan berat bagi pria yang acap dapat akronimisasi dengan “tri-ta”, yaitu : (1) tahta, (2) harta, dan (3) wanita. Jika seorang lelaki sanggup teguh dalam menghaadapi ujian (godaan) “tri-ta” itu. Media uji yang ke-4 adalah “terjun ke medan perang”. Nah, bila mampu menghadapi keempat mata uji itu, maka dia adalah “lelaki tangguh”.

Kisah di Panil IV menggambarkan Arjuna yang bertemu seorang pertapa tua — yang tergambarkan berbadan kurus, berambut panjang yang terikat pada belakang kepalanya. Nyaris telanjang — hanya kenakan cawat terbuat dari kulit pohon, penyebutannya “valkaladara”. Yakni busana minimalis bagi para pertapa masa lalu, seperti juga busana Arjuna [sebagai] pertapa. Pertapa tua itu adalah sosok penyamaran Dewa Siwa. Gambaran yang serupa terdapat di relief Arjunawiwaha di Candi Kedaton. Berupa pertapa tua yang telanjang bulat dan membawa tongkat pertapa. Pada relief Selamangleng ini, tergambar Arjuna berada dalam ceruk goa pertapaan. Sang Pertapa terlihat tengah berbicara dengan Arjuna, yang bisa jadi memberikan “wejangan” kepada pertapa Arjuna.

Panil V menggambarkan kisah Arjuna berjalan paling depan dengan teriringi oleh dua orang pria yang membawa sesuatu seperti lembar daun berukuran besar. Ada kemungkinan benda itu adalah kipas besar. Bisa juga penggunaannya untuk peneduh terhadap terik matahari atau guyuran hujan. Mereka berjalan jauh, hingga mencapai suatu tempat yang berada di tempat yang lebih tinggi. Padamana terdapat arsitektur berupa miniatur candi serta rumah berpanggung. Kedua pria pengiring Arjuna itu bisa jadi adalah utusan Dewa Indra, yang menyampaikan undangan Dewa Indra pada Arjuna untuk menghadap raja sekalian Dewata itu di Kaindran. Gambaran demikian tak terdapati pada relief Ajunawiwaha di tempat-tempat lain.

kisah

Goa Selamangleng

Tilottama Naksir Arjuna

Uniknya, bila di satu pihak gambaran itu hadir pada dinding goa Selamangleng Tulungagung. Namun, pada pihak lain, anehnya relief yang menggambarkan pembunuhan babi hutan — sebagai penjelmaan dari Patih Mamangmuka, yang pada relief Arjunawiwaha di Candi Jago, Tegowangi, dan Candi Kedaton terhadirkan. Namun pada goa pertapaan ini justru sengaja tak tertampilkan. Terkait itu, ada sejumlah ahli berpendapat bahwa ada kesengajaan bahwa relief pembunuhan babi hutan tidak terhadirkan demi toleransinya terhadap komunitas Mahayana Buddhis yang berkegiatan religis di dekatnya. Taitu di Candi Sanggrahan. Apabila benar demikian memberi kita gambaran bahwa sejak masa Hindu-Buddha telah terdapat kehidupan keagamaan antar penganut agama berlainan (berbhineka) di areal Walikukun. Yaitu penganut Hindu Saiwa, Mahayana Buddhis (Sugata) maupun agama RSI, di mana mereka tinggal berdampingan dan bertoleransi satu sama lain.

Panil VI pada dinding goa di sisi selatan, yang menggambarkan Dewa Indra yang duduk pada pedestal bernaung payung besar. Berhadapan dengan Arjuna dan Suprabha. Sedangkan bidadari- bidadari lainnya, termasuk Tilotama — yang tergambarkan bertubuh bongsor dengan rambut ikal panjang tergerai — hadir duduk di dekat Dewa Indra. Kisahnya, Dewa Indra perintahkan pada Arjuna dan Dewi Suprbha untuk pergi menuju ke istana (kadatwan) raksasa (daitya) Niwatakawaca. Mengemban misi khusus mengalahkan sang raja raksasa, yang mengancam untuk menghancurkan Kaindran bila para Dewa tidak berkenan menyerahkan makkhluk tercantik Dewi Suprabha. Pada misi ini, Suprabha jadi “umpan” buat menyingkapkah rahasia kesaktian Niwatakawaca, yakni pada lidahnya — yang merupakan titik magis akan “penghapusan”-nya. Adapun sang ksatria Arjuna (nama mudanya “Partha”) bakal membidikkan mata panah sakti “pasupati” pemberian Indra tepat ke lidah dari Niwatakawaca. Tugas dari Indra kepada Suprabha dan Dewi Arjuna itu sempat membuat iri hati Tilotama, yang diam-diam naksir berat kepada Arjuna.

Dewi Suprabha dan Arjuna Terbang ke Istana Niwatakawaca

Panil VII, yang merupakan panil terakhir di dinding goa sebelah utara, menggambarkan Dewi Suprabha dan Arjuna terbang mengendarai mega menuju ke istana Niwatakawaca. Tampak di bawah gunung api yang mengepulan asap. Dari bentuknya, gunung yang puncaknya menyerupai alat kelamin wanita (vulva) tersebut mengingatkan kita pada bentuk Gunung Budeg (Cikrak) terlihat dari arah selatan- barat. Hal ini menjadi petunjuk bahwa di masa amat lampau Gunung Budeg pernah menjadi gunung berapi aktif. Pada sekitar gunung itu terlihat bentang area yang berair luas, yang melukiskan rawa- rawa purba di sebelah barat Gunung Budeg — areal rawa purba ini berhasil terkeringkan pada medio tahun 1980-an. Selain itu, perbukitan sekiranya, yakni pegunungan Kapur (kendeng) selatan, terlihat sepasang kelinci dan sepasang babi hutan.

Demikianlah deskripsi tujuh panil relief cerita “Arjunawiwaha” di dinding goa sebelah utara, yang hanya menghadirkan separoh dari keseluruhan kisah dari kakawin Arjunawiwaha. Meski relief yang terpahatkan ini adalah gubahan dari salah satu di antara 18 parwa (hastadasa parwa) dari wiracarita Mahabharata, tepatnya adalah Wanaparwa. Namun latar kultural beserta ekologisnya terambil dari tempat sekitar relief ini terpahatkan. Seperti terlihat pada : bangunan lumbung, bende, payung besar, hewan rusa, kelinci, babi hutan, tanaman kaktus besar, gunung berapi dan rerawa purba, dsb. Relief ini dengan demikian menjadi “gambar dokumenter” mengenai eko-budaya pada zamannya.

Demikianlah sekilas paparan tentang kisah populer era Majapahit, yaitu kisah Arjunawiwaha, yang antara lain hadir ke dalam relief cerita. Terima kasih atas perhatiannya. Mugi maedahi. Nuwun.

Plandaan TA, 14 Juli 2021
Omahpunjer CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, Pamong esai kliktimes.com dan javasatu.com